Wednesday, April 18, 2018

Cerita Sang Bunga

Dalam hidup saya ada berbagai jenis bunga.
Dari bunga kecil namun harumnya yang semerbak,
hingga bunga yang besar, cantik, namun tidak harum sama sekali.
Dan semua bunga itu hanya berawal dari bibit-bibit kecil.

Kemarin, bibit yang saya sudah tanam akhirnya menunjukkan hasil yang baik.
Batangnya kini mulai tumbuh, walaupun belum muncul bunga.
Dan walau hanya batang, saya merasa punya harapan kembali untuk bangkit.
Saya tidak mau berekspektasi tinggi menunggu kelopak bunga yang tumbuh.
Tapi, rasanya tidak mungkin untuk tidak berekpektasi akan hal itu.

Namun...
Dalam waktu yang bersamaan, di sebrang sana, tidak jauh, bahkan sangat dekat.

"Hei, kamu tahu? Bibitku memunculkan batangnya sekarang. Senang sekali!!!"
"Wah, bagus. Semoga kamu mendapatkan bunga sesuai yang kamu harapkan yaa..."
"Kamu kenapa? Suaramu tidak sebahagia ucapanmu..."
"Iya, bungaku layu..."

Ada bunga milik dia yang mulai layu.
Bukan, bukan karena dia.
Tapi ini karena orang yang tidak bisa menghargai.
Menghargai bagaimana dia merawat bibit-bibit kecil hingga menjadi bunga yang harum.
Hanya karena iri mereka merusak bunganya dengan menyiramkan air seni.

Saya tahu betul bagaimana dia meraawat bunga itu.
Dia selalu berusaha sekuat tenaganya,
dan selalu memberikan yang terbaik agar bunga itu tumbuh indah dan wangi.
Kini bunga itu mengering dan warnanya tak indah lagi.
Bahkan kelopaknya mulai berguguran satu per satu.

Hati yang tadinya merasa senang karena batang yang tumbuh,
seketika berubah sedih, sangat sedih.
Bukan hanya karena bunganya yang layu,
melihat dia yang sedih rasanya bunga lain pun akan layu.
Ini bukan lah hal yang indah, sama sekali tidak.


Pesan tertulis untuk dia...
"Dear dia,
Hanya kata sabar dan dukungan yang bisa aku beri sekarang.
Saya tidak pernah tahu apa rasanya beridiri di sepatu milikmu sekarang.
Tapi, kamu harus tahu,
bila kamu ingin memilih bibit lain untuk bunga mu nanti,
saya ada di sampinngmu, membantumu...

Biarkan lah mereka yang merusak bunga mu hingga layu.
Mereka tidak melihat bagaimana kamu merawat bibitmu
hingga menjadi bunga yang indah dan harum.
Sampai nanti mereka tahu bagaimana rasanya saat bunga mereka layu.

Tidak ada yang sia-sia semua yang sudah kamu lakukan untuk bungamu.
Bunga mu pernah tumbuh indah, berikutnya pun akan.
Bunga mu memang layu kini, namun saya harap kamu tidak.
Bagaimanapun, kamu harus terus berusaha.
Walaupun untuk bunga yang lain..."

No comments:

Post a Comment