Friday, June 1, 2018

Fasilitas Untuk Prioritas

Halo tengah malam di akhir pekan...

Siapa sih di dunia ini yang suka nunggu? Mungkin ada, belum tentu tidak ada.
Mungkin mereka ga suka, tapi keadaan mengaharuskan mereka buat menunggu.
Contoh kecil, antre di halte bis transjakarta, antre pesan makanan di restoran cepat saji, sampai antre tiket untuk nonton. Hal-hal kecil kaya gitu yang emang mengharuskan kita untuk antre.
Belum lagi dengan adanya budaya antre yang diajarin sama leluhur kita. Harus dilestarikan toh?

Keadaan yang mengharuskan seperti itu yang harusnya lebih diperhatikan ga sih?
Kaya gimana caranya supaya mereka yang diharuskan menunggu itu ga bosan.
Belum lagi kalau antreannya lagi panjang-panjangnya dan harus berdiri lagi nunggunya.
Enak sih klo nunggu ada temen ngobrolnya, ga berasa pasti nunggu selama apa juga.

Cuman gimana kalau yg diharuskan menunggu itu orang yang harus di 'prioritas' kan?
Seperti, difabel, lansia, ibu hamil, sampai orang yang cacat fisiknya.

Kemarin, gue dateng ke salah satu restoran cepat saji yang ga cepet-cepet amatlah kalau lagi rame.
Sebut aja restoran itu KPC. Dan saat masuk restoran di siang hari dimana seluruh kaca ditutup tirai karena menghormati orang yang sedang berpuasa, ternyata tetap rame di hari itu. Yaa mungkin karena daerahnya banyak kantor juga, jadi pas jam makan siang antreannya panjang banget.

Gue, yang alhamdulillah sehat walafiat, pas liat antreannya udah gerah duluan. Ditambah saya juga dikejar waktu karena ada event kantor yang harus dipersiapkan dalam waktu setengah jam lagi. Cuman karena gue menghindari maag, gue paksain saat itu untuk antre di KPC. Cuman ada mengganggu pikiran gue. Bukan karena pelayanannya aja yang kurang cekatan karena setiap customer yang sampe depan kasir harus ditawarin paket yang berhadiah CD lagu, tapi karena orang yang mengantre.

Siang itu gue ngeliat, ada 2 orang yang harusnya diprioritaskan. 1 orang, perempuan dengan jalan yang agak sulit karena cacat di kakinya dan 1 orang lagi laki-laki yang sepertinya cacat fisik di bagian tulang punggungnya, kelihatan saat dia berdiri di antrean itu. Dan mereka antre cukup lama. Mungkin sekitar 20-30 menit berdiri. Dan gue langsung mikir, haruskah setiap restoran punya jalur antrean untuk yang harusnya diprioritaskan? Sama seperti  bangku priotitas di setiap bis Transjakarta.

Bukan hanya di restoran, tapi sepertinya di setiap tempat dimana kita memang diharuskan untuk mengantre sambil berdiri, sepertinya emang harus punya jalur prioritas. Mungkin bisa dicontoh seperti bank. Mereka tau, setiap nasabah yang punya urusan belum tentu memakan waktu yang sebentar, jadi mereka menyiapkan tempat mengantre dan menunggu yang nyaman. Kita tinggal nunggu nomor antrean di panggil sambil duduk di bangku yang empuk, dengan ruangan yang dingin.

Mungkin bukan hanya pihak yang memfasilitasinya aja yang harus memperhatikan, tapi kita sebagai orang yang lebih sehat dan melihat, juga harus lebih concern dengan orang sekitar. Misalnya tempat duduk di halte bis yang terbatas, coba persilahkan terlebih dahulu untuk orang yang harus diprioritaskan. Yaa maksudnya jangan egois-egois amat jadi manusia, terus pura-pura ga liat supaya enak mulu hidupnya.

Ini bukan masalah siapa cepat dia dapat atau angkat pantat hilang tempat. Ini masalah kemanusiaan, masalah empati dan simpati. Berlomba dalam berbuat baik bukan berlomba mendapatkan kursi. Gue berharap, semoga fasilitas untuk prioritas lebih diperbanyak dalam bentuk apapun dan dimanapun. Andaikan gue orang kaya, gue akan berusaha memberikan hal yang lebih baik untuk orang yang lebih membutuhkan. Tapi karena gue belum jadi orang kaya, saya cuman bisa kasih doa dulu.

Semoga kalian selalu dalam lindungan-Nya wahai orang-orang yang selalu berbuat baik... Amin!

No comments:

Post a Comment